Bagaimanakah Hukum Leasing Menurut Islam??

Apakah boleh kredit lewat pihak ketiga atau dikenal dengan leasing? Biasa kita menemukan hal ini dalam jual beli kredit kendaraan atau rumah.

Suatu persoalan yang sering muncul di dunia bisnis adalah jual beli kredit melalui pihak ketiga. Kasusnya adalah semacam ini: Sebuah dealer menjual motor kepada Ahmad dengan cara kredit. Namun, Ahmad harus membayar cicilan kredit tersebut kepada sebuah bank.

Praktek jual beli seperti inilah yang banyak dipraktekkan di banyak dealer atau showroom. Juga dapat kita temui praktek yang serupa pada beberapa KPR dan toko elektronik. Sekarang, apakah jual beli semacam ini dibenarkan? Mari kita simak pembahasan berikut, semoga kita bisa mendapatkan jawabannya.

Yang Harus Dipahami Terlebih Dahulu

Di awal pembahasan kali ini, kita akan melihat terlebih dahulu praktek jual beli yang terlarang yaitu menjual barang yang belum selesai diserahterimakan atau masih berada di tempat penjual.

Contohnya adalah Rizki memberi beberapa kain dari sebuah pabrik tekstil. Sebelum barang tersebut sampai ke gudang Rizki atau selesai diserahterimakan, dia menjual barang tersebut kepada Ahmad. Jual beli semacam ini adalah jual beli terlarang karena barang tersebut belum selesai diserahterimakan atau belum sampai di tempat pembeli.

Larangan di atas memiliki dasar dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang dibawakan oleh Bukhari dan Muslim. Bukhari membawakan hadits tersebut dalam Bab:

باب بيع الطعام قبل أن يقبض وبيع ما ليس عندك

Menjual bahan makanan sebelum diserahterimakan dan menjual barang yang bukan miliknya.”

Sedangkan An Nawawi dalam Shahih Muslim membawakan judul Bab,

بُطْلاَنِ بَيْعِ الْمَبِيعِ قَبْلَ الْقَبْضِ

Batalnya jual barang yang belum selesai diserahterimakan.

Hadits yang menjelaskan hal tersebut adalah:

[Hadits Pertama]

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ

Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.”

Ibnu ‘Abbas mengatakan,

وَأَحْسِبُ كُلَّ شَىْءٍ مِثْلَهُ

Aku berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya sama dengan bahan makanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[Hadits Kedua]

Dari Nafi’, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اشْتَرَى طَعَامًا فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَسْتَوْفِيَهُ وَيَقْبِضَهُ

Barangsiapa membeli bahan makanan, maka janganlah dia menjualnya hingga menyempurnakannya dan selesai menerimanya.” (HR. Muslim)

[Hadits Ketiga]

Ibnu ‘Umar mengatakan,

وَكُنَّا نَشْتَرِى الطَّعَامَ مِنَ الرُّكْبَانِ جِزَافًا فَنَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ نَبِيعَهُ حَتَّى نَنْقُلَهُ مِنْ مَكَانِهِ.

Kami biasa membeli bahan makanan dari orang yang berkendaraan tanpa diketahui ukurannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menjual barang tersebut sampai barang tersebut dipindahkan dari tempatnya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain, Ibnu ‘Umar juga mengatakan,

كُنَّا فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَبْتَاعُ الطَّعَامَ فَيَبْعَثُ عَلَيْنَا مَنْ يَأْمُرُنَا بِانْتِقَالِهِ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِى ابْتَعْنَاهُ فِيهِ إِلَى مَكَانٍ سِوَاهُ قَبْلَ أَنْ نَبِيعَهُ.

Kami dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan. Lalu seseorang diutus pada kami. Dia disuruh untuk memerintahkan kami agar memindahkan bahan makanan yang sudah dibeli tadi ke tempat yang lain, sebelum kami menjualnya kembali.” (HR. Muslim)

Dari hadits-hadits di atas menunjukkan beberapa hal:

  1. Terlarangnya menjual barang yang belum selesai diserahterimakan.
  2. Larangan menjual barang yang belum selesai diserahterimakan ini berlaku bagi bahan makanan dan barang lainnya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas di atas.
  3. Barang yang sudah dibeli harus berpindah tempat terlebih dahulu sebelum dijual kembali kepada pihak lain.

Imam Nawawi mengatakan,

“Dalam hadits-hadits di atas terdapat larangan untuk menjual barang hingga barang tersebut telah diterima oleh pembeli. Dan para ulama memang berselisih pendapat dalam masalah ini. Imam Asy Syafi’i mengatakan bahwa menjual kembali barang kepada pihak lain sebelum diterima oleh pembeli adalah jual beli yang tidak sah baik barang tersebut berupa makanan, aktiva tetap (seperti tanah), barang yang bisa berpindah tempat, dijual secara tunai ataupun yang lainnya.” (Syarh Muslim, 169-170)

Apa hikmah di balik larangan ini?

Hal ini diterangkan dalam hadits lain. Dari Thowus, Ibnu ‘Abbas mengatakan,

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى أن يبيع الرجل طعاما حتى يستوفيه . قلت لابن عباس كيف ذاك ؟ . قال ذاك دراهم بدراهم والطعام مرجأ

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli bahan makanan hingga barang tersebut telah diserahterimakan.

Thowus mengatakan kepada Ibnu ‘Abbas, “Kenapa bisa demikian?

Beliau pun mengatakan, “Sebenarnya yang terjadi adalah jual beli dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda.” (HR. Bukhari) [Bukhari: 39-Kitabul Buyu’, 54-Bab Masalah Jual Beli Bahan Makanan dan Barang yang Ditimbun]

Hikmah lainnya adalah karena barang yang diserahterimakan kepada pembeli boleh jadi rusak. Hal ini disebabkan barang tersebut terbakar, rusak terkena air, atau mungkin karena sebab lainnya. Sehingga jika pembeli barang tersebut menjual kembali barang tadi kepada pihak lain, ia tidak dapat menyerahkannya.

Sekali Lagi Tentang Riba dalam Hutang Piutang (Riba Qordh)

Perlu diketahui bahwa yang namanya hutang-piutang adalah salah satu jenis akad yang di dalamnya terdapat unsur menolong dan mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan bantuan. Sehingga akad hutang-piutang semacam ini tidak diperbolehkan sama sekali bagi siapa pun untuk mencari keuntungan. Keuntungan yang diperoleh dari hasil hutang piutang seperti ini disebut riba yakni riba qordh.

Contoh riba qordh: Ahmad berhutang pada Rizki sejumlah Rp.1.000.000,-. Kemudian Ahmad harus mengembalikan hutang tersebut dengan jumlah lebih yaitu Rp.1.200.000,- dalam jangka waktu satu bulan.  Tambahan Rp.200.000,- inilah yang disebut riba.

Para ulama memberi kaedah yang sangat masyhur dalam ilmu fiqih:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا

Setiap piutang yang mendatangkan keuntungan, maka itu adalah riba.” (Lihat Asy Syarh Al Mumthi’, 8/63)

Perlu diketahui bahwa perbuatan menarik riba adalah perbuatan yang diharamkan dan suatu bentuk kezholiman. Kezholiman meniadakan keadilan yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al Baqarah: 279)

Bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa orang yang berhutang itu ridho (rela) jika dikenakan bunga atau riba? Ada dua sanggahan mengenai hal ini:

Pertama, ini sebenarnya masih tetap dikatakan suatu kezholiman karena di dalamnya terdapat pengambilan harta tanpa melalui jalur yang dibenarkan. Jika seseorang yang berhutang telah masuk masa jatuh tempo pelunasan dan belum mampu melunasi hutangnya, maka seharusnya orang yang menghutangi memberikan tenggang waktu lagi tanpa harus ada tambahan karena adanya penundaan. Jika orang yang menghutangi mengambil tambahan tersebut, ini berarti dia mengambil sesuatu tanpa melalui jalur yang dibenarkan. Jika orang yang berhutang tetap ridho menyerahkan tambahan tersebut, maka ridho mereka pada sesuatu yang syari’at ini tidak ridhoi tidak dibenarkan. Jadi, ridho dari orang yang berhutang tidaklah teranggap sama sekali.

Kedua, pada hakikat senyatanya, hal ini bukanlah ridho, namun semi pemaksaan. Orang yang menghutangi (creditor) sebenarnya takut jika  orang yang berhutang tidak ikut dalam mu’amalah riba semacam ini. Ini adalah ridho, namun senyatanya bukan ridho. (Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di –rahimahullah– dalam Fiqh wa Fatawa Al Buyu’, 10)

Hati-hatilah dengan riba karena orang yang memakan riba (rentenir) dan orang yang memberinya (nasabah), keduanya sama-sama dilaknat.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim) [Muslim: 23-Kitab Al Masaqoh, 19-Bab Laknat pada Orang yang Memakan Riba dan yang Menyerahkannya].

Maksud perkataan “mereka semua itu sama”, Syaikh Shafiyurraahman Al Mubarakfury mengatakan, “Yaitu sama dalam dosa atau sama dalam beramal dengan yang haram. Walaupun mungkin bisa berbeda dosa mereka atau masing-masing dari mereka dari yang lainnya.” (Minnatul Mun’im fi Syarhi Shohihil Muslim, 3/64)

Jadi bukan hanya rentenir saja yang mendapatkan laknat dan dosa, namun orang yang menyerahkan riba (yaitu nasabah) juga terlaknat berdasarkan hadits di atas. Nas-alullaha al ‘afwa wal ‘afiyah.

Perkreditan Melalui Pihak Ketiga

Setelah kita mengetahui dua pembahasan di atas, yakni masalah jual beli barang sebelum dipindahkan dan praktek riba dalam hutang-piutang, maka kita akan meninjau praktek perkreditan mobil, motor ataupun rumah yang saat ini terjadi. Gambarannya adalah sebagai berikut:

Sebuah dealer menjual motor kepada Ahmad dengan cara kredit. Namun, Ahmad harus membayar cicilan kredit tersebut ke bank atau PT. Perkreditan dan bukan dibayar ke dealer, tempat ia membeli barang tersebut.

Kalau kita mau bertanya, kenapa Ahmad harus membayar cicilan tersebut ke bank bukan ke dealer yang menjualkan motor padanya?

Jawabannya:

Bank ternyata telah mengadakan kesepakatan bisnis dengan dealer tersebut yang intinya: Bila ada pembeli yang membeli dengan cara kredit, maka pihak banklah yang akan membayar secara cash kepada dealer. Sedangkan pembeli diharuskan membayarkan cicilan kepada bank tadi. Dealer mendapatkan keuntungan karena dia mendapatkan uang cash langsung. Sedangkan bank mendapatkan keuntungan karena dia menjual barang tersebut dengan harga lebih tinggi, namun dengan cara kredit. Seandainya pembeli itu ngotot untuk membayar kepada dealer, maka pihak dealer akan berkeberatan. Pihak dealer menganggap urusannya dengan pembeli telah selesai, sekarang tinggal urusan pembeli dengan bank.

Jika kita melihat, kejadian di atas memiliki dua penafsiran. Masing-masing penafsiran akan jelas menunjukkan kesalahan, yaitu terjatuh dalam riba atau dalam jual beli barang yang belum dipindahkan (diserahterimakan).

Penafsiran pertama:

Misalnya kita anggap kalau harga motor adalah Rp. 15.000.000,- secara cash. Sedangkan secara kredit adalah Rp. 18.000.000,-. Jadi, kemungkinan yang terjadi, bank telah menghutangi pembeli motor sejumlah Rp.15.000.000,- dan dalam waktu yang sama bank langsung membayarkannya ke dealer, tempat pembelian motor. Kemudian bank akhirnya menuntut pembeli ini untuk membayar piutang tersebut sejumlah Rp.18.000.000,-.. Bagaimana dengan akad semacam ini?

Ini adalah akad riba karena bank menghutangi Rp.15.000.000,-, kemudian minta untuk dikembalikan lebih banyak sejumlah Rp.18.000.000,-. Ini jelas-jelas adalah riba. Hukumnya sebagaimana disebutkan dalam hadits yang telah lewat, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim)

Penafsiran kedua:

Bank telah membeli motor tersebut dari dealer dan menjualnya kembali kepada pembeli. Jika memang penafsirannya seperti ini, maka ini berarti bank telah menjual motor yang ia beli sebelum ia pindahkan dari tempat penjual (dealer) dan ini berarti bank telah menjual barang yang belum sah ia miliki atau belum ia terima. Di antara bukti hal ini adalah surat menyurat motor semuanya ditulis dengan nama pembeli dan bukan atas nama bank. Penafsiran kedua ini sama dengan penafsiran Ibnu ‘Abbas yang pernah kami sebutkan,

ذاك دراهم بدراهم والطعام مرجأ

Sebenarnya yang terjadi adalah jual beli dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda.” (HR. Bukhari)

Jadi, yang terjadi adalah jual beli rupiah dengan rupiah, sedangkan motornya ditunda. Dengan demikian penjualan dengan cara seperti ini tidak sah karena termasuk menjual barang yang belum selesai diserahterimakan.

Kesimpulan

Perkreditan dengan cara ini adalah salah satu bentuk akad jual beli yang haram, baik dengan penafsiran pertama atau pun kedua tadi. Wallahu a’lam.

Alangkah baiknya jika kita sebagai seorang muslim tidak melakukan praktek jual-beli semacam ini. Lebih baik kita membeli barang secara cash atau meminjam uang dari orang lain (yang lebih amanah, tanpa ada unsur riba) dan kita berusaha mengembalikan tepat waktu. Itu mungkin jalan keluar terbaik.

Saudaraku, cukup nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut sebagai wejangan bagi kita semua.

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

 Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih)

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pengusaha muslim sekalian. Semoga Allah selalu memberikan kita ketakwaan dan memberi kita taufik untuk menjauhkan diri dari yang haram.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

****

18 Rabi’ul Awwal 1430 H

Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Allah

Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com

*Rebloged from “Kredit Lewat Pihak Ketiga (Bank)

 

Say No To Interest (Riba’)

The Definition Of Interest

The literal meaning of interest or Al-RIBA as it is used in the Arabic language means to excess or increase. In the Islamic terminology interest means effortless profit or that profit which comes free from compensation or that extra earning obtained that is free of exchange. Hazrat Shah Waliullah Dehlvi a great scholar and leader has given a very concise and precise definition of interest. He says,

“Riba` is a loan with the condition that the borrower will return to the lender more than and better than the quantity borrowed.”

Interest In Pre-Islamic Times

Hafiz Ibn Hajr writes in his commentary of Sahih Bukhari (Fathul Bari):

“Imam Malik reports on the authority of Zaid Ibn Aslam that in the period of ignorance (pre-Islamic times) interest was changed according to the following scheme. One person had a right in the property of another person. It may have been a general right because of the amount lent or the price of something purchased or in any other form. A time was set when the claim would be settled. When the appointed time arrived the creditor would ask the debtor if he wanted to settle the claim or pay interest with an extension to the time. If the claim was settled then there was no increase in the payment. Otherwise the debtor would increase the amount payable and the creditor would extend the period further.
(Vol. IV P.264)

Islam’s View Of Trade

Interest is not a subject without trade and commerce. Islam recognises trade and commerce not only as a lawful profession but also as a moral duty. Islam has laid down a complete set of rules for trade. The reason for these rules is to specify what halal earning is. There are many traditions (Ahaadith) concerning halal provision that can also be found in the books containing the traditions of the prophet (peace be upon him). Actually, Islam has encouraged men to earn their own provision and to provide it to their families. The condition is that the earning has to be according to the conditions set by the Shari’ah. Any sort of transaction that does not correspond to the rules of trade will not be allowed. These rules can be found under the heading of trade in the books of jurisprudence. Interest is amongst those conditions which all dealings must be free from.

How Is Interest Illegal

The definition of interest has already been mentioned as well as that it is prohibited. If we explore the Qur’an we will come across at least four places where Allah has mentioned interest.

The first one is in Surah Al-baqarah verse no.275

  • “Those who devour usury will not stand except as stands one whom the Satan by his touch has driven to madness. That is because they say, “trade is like usury”, but Allah has permitted trade and has forbidden usury”,

In the next verse verse 276 in the same place he says,

  • “Allah will deprive usury of all blessing, and will give increase for deeds of charity, for he does not love any ungrateful sinner.”

Two verses later in verse 278 he says,

  • “Oh you who believe! Fear Allah and give up what remains of your demand for usury if you are indeed believers.”

In verse 279 he says,

  • “If you do not, take notice of war from Allah and his Messenger sallallahu alaihe wasallm but if you repent you shall have your capital sum. Deal not unjustly and you shall not be dealt with unjustly.”

In the second place in Surah Aal-Imran, verse no.130 Allah says,

“Oh you who believe! Devour not usury doubled and multiplied; but fear Allah that you may prosper.”

In the third place in Surah Al-Nisaa’ Allah states in verse 161,

“That they took usury though they were forbidden and they devoured peoples wealth wrongfully; we have prepared for those amongst them who reject faith a grievous chastisement.”

In the fourth place, Surah Al-Room, verse no.39 Allah mentions

“That which you give in usury for increase through the property of people will have no increase with Allah: but that which you give for charity seeking the countenance of Allah, it is these who will get a recompense multiplied.”

Ahaadith Concerning Interest

These ahaadith have been taken from Mishkat-ul-Masabih under the section of interest and the English translation has been taken from its English version written by Al Hajj Moulana Fazl Karim (218-227 vol. II)

Hazrat Jabir radiyallahu anhu has reported that the Messenger of Allah sallallahu alaihe wasallm cursed the devourer of usury, its payer, its scribe and its two witnesses. He also said that they were equal (in sin).
(Muslim)

Hazrat Abu Hurairah radiyallahu anhu reported that the Holy Prophet sallallahu alaihe wasallmsaid: A time will certainly come over the people when none will remain who will not devour usury. If he does not devour it, its vapour will overtake him.
(Ahmed, Abu Dawood, Nisai, Ibn Majah.)

Hazrat Abu Hurairah radiyallahu anhu reported that the Messenger of Allah sallallahu alaihe wasallmsaid : Usury has got seventy divisions. The easiest division of them is a man marrying his mother.
(Ibn Majah)

Hazrat Abu Hurairah radiyallahu anhu reported that the Messenger of Allah sallallahu alaihe wasallmsaid: I came across some people in the night in which I was taken to the heavens. Their stomachs were like houses wherein there were serpents, which could be seen from the front of their stomachs. I asked: O Gabriel! Who are these people? He replied these are those who devoured usury.
(Ahmed, Ibn Majah)

Hazrat Ali radiyallahu anhu reported that he heard the Messenger of Allah sallallahu alaihe wasallmcursing the devourer of usury, its giver, its scribe and one who refuses to give Zakat and he used to forbid mourning.
(Nisai)

Hazrat Umar bin Al-Khattab radiyallahu anhu reported: the last of what was revealed was the verse of usury. The Messenger of Allah sallallahu alaihe wasallmwas taken and he had not explained it to us. So, give up usury and doubt.
(Ibn Majah, Darimi)

Hazrat Abdullah bin Hanzalah radiyallahu anhu (who was washed by the angels) reported that the Messenger of Allah sallallahu alaihe wasallmsaid: A dirham of usury that a man devours and he knows is greater than 36 fornications.
(Ahmed, Darqutni)

Baihaqi reported from Ibn Abbas radiyallahu anhu in shuabul iman. He added and said: (as for) one whose flesh has grown out of unlawful food, the fire is more suitable for him.

After narrating all these verses from the Qur’an and relating all the Ahaadith it is apparent to us that interest could never be legal and halal. How could anybody even take the time out to think about a matter in which Allah has declared war on the user and his Beloved Prophet sallallahu alaihe wasallm has cursed him? As sensible people we can understand that what our creator has chosen for us is for our own prosperity only.

Interest From A Jurisprudical View

We should deeply thank the Sahaabah radiyallahu anhum in their efforts to spread the religion as they learnt it from the Prophet sallallahu alaihe wasallm. Then when the religion started to spread vastly Allah brought about four imams who described the religion in general terms in order to make the common public understand. They spent their lives trying to put the whole religion in a collective form through the Qur’an and the Ahaadith and the concise decisions of the Sahaabah radiyallahu anum. In the case of interest, all four imams established a general rule mainly concentrating on this statement made by the Prophet sallallahu alaihe wasallm.

Hazrat Al-Khudri radiyallahu anhu reported that the Prophet sallallahu alaihe wasallm said: Gold in exchange for gold, silver in exchange for silver, wheat in exchange for wheat, barley in exchange for barley, dates in exchange for dates, salt in exchange for salt is in the same category and (should be exchanged) hand to hand, so who ever adds or demands increase he has practised usury. The giver and taker are the same.

Out of the four imams, Imam Abu Hanifah has ruled that if the measurement system (volumetric or in compounds) is the same and the two items are in the same category, then they should be sold in the same amount and direct not in credit otherwise interest will be found.

Imam Shaf’ee says that if the items are valuable and could be considered food then there is the chance of interest. Imam Malik says that if the items are valuable and are edible then interest is a subject.

Advice

As you may have realised, giving and taking interest is unlawful. Unfortunately, the basis of many of the transactions (especially in banking and insurance), personal or business involve interest. Thus it is becoming increasingly difficult for the majority of the Muslims, especially those who are comercially orientated to abstain from dealings involving interest. Many of us purchase items on ‘Buy now, Pay later’ schemes thinking that this sort of scheme is of great benefit to us. Sadly, what we fail to recognize at the time of purchasing this ‘supposed bargain’ is the fact that if we fail to pay the required amount at the due time, we will be liable to pay interest.

Now, suppose a couple of months ago, we were purchased an item on a ‘Pay later’ scheme in which there was no question about us keeping upto date with payments, however due to a change in our financial situation, we have failed to pay the required amount, and are paying interest now as a result. We would have joined a group of those unfortunate people who have been cursed by the Prophet Sallallahu Alayhi Wassallam.

Our advice to anyone who is involved in any form of interest is that the individual should minimise his expenditure in these dealings and if possible abstain completely from these transactions. In any case, every individual should continue to seek Allah’s forgiveness. The philosophy shows that a person who takes interest does not gain anything in reality but through the explanation of the Qur’an verse,

” Allah decreases interest and increases sadqah”

That in reality the money just goes to waste and the person does not even realise, and a person who gives money in the path of Allah, in whatever form it may be, actually gains although in reality it seems as though he is loosing out.

Every person should take all necessary precautions in their financial and social dealings. If a person neglects in keeping a watchful eye on financial dealings, this negligence will slowly spread to other aspects of religion. This will have a very detrimental effect on religious matters.

The dealings of usury and interest are not only a disadvantage to us in this world but will also be a source of great discomfort and pain for us in the hereafter. The Prophet Sallallahu Alayhi Wassallam has informed us about the punishment that awaits those people who deal with interest:

“Hazrat Abu Huraira Radhiallaho Anhu has reported the saying of the Prophet Sallallahu Alayhi Wassallam that during his ascension (Mi’raaj), he noticed a group of men whose stomachs were bloated to the size of big rooms and their wanting to move from their positions was impossible. They would be crushed in a stampede by the friends of Fir’awn. The Prophet Sallallahu Alayhi Wassallam seeing their condition asked Hazrat Jibra’eel Alayhis Salaam about their identity. He was informed that they were the people who indulged in dealings of usury and interest.”

The summary of the matter is that interest is hazardous and should be abstained from in all manners. If anybody has a case they wish to solve then they should contact a Mufti and present their problem as it is.

Rebloged from: http://islamgreatreligion.wordpress.com

Interest (Riba’)